Laman

Tampilkan postingan dengan label Kimia Klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia Klinik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Cara Pemeriksaan Sediment Urin

Cara Pemeriksaan Sediment Urin

Cara Pemeriksaan Sediment Urin

Pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan atau benda kecil lainnya yang tidak dapat diamati secara kasat mata. Berbagai unsur mikroskopik yang bisa ditemukan baik yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya adanya perdarahan pada organ tertentu, tidak maksimalnya fungsi endotel ataupun gagal ginjal.

Metode Cara Pemeriksaan Sediment Urin

Pada dasarnya pemeriksaan sedimen urin atau pemeriksaan urin secara mikroskopik dapat dilakukan dengan menggunkan berbagai cara. Salah satunya adalah pemeriksaan sedimen secara langsung dang pemeriksaan urin dengan menggunakan pewarnaan Stenheimer - Malbin. Metode pemeriksaan mikroskopik sediment urin lebih dianjurkan untuk dikerjakan dengan menggunakan pewarnaan Stenheimer - Malbin. Dengan menggunakan pewarnaan ini, unsur-unsur mikroskopik yang biasanya sukar terlihat pada sediaan natif akan dapat terlihat jelas.


Berikut ini adalah Cara Pemeriksaan Sediment Urin


Sampel urin mula-mula dihomogenkan terlebih dahulu, kemudian sampel di pindahkan ke dalam tabung centrifuge kira-kira sebanyak 10 ml. Sampel di centrifuge pada kecepatan relatif rendah (sekitar 1500 - 2000 rpm) selama 5 menit. Tabung dibalik dengan cepat (decanting) untuk membuang supernatant sehingga terdapat endapan sebanyak 0,2 - 0,5 ml. Endapan tersebut diteteskan ke obyek gelas dan selanjutnya ditutup dengan coverglass. Jika preparat hendak di lakukan pewarnaan Stenheimer-Malbin, teteskan endapan dengan 1 - 2 tetes cat pewarnaan tersebut, kemudian dikocok perlahan lalu teteskan ke obyek glass dan ditutup dengan cover glass untuk segera dilakukan pemeriksaan.

Endapan pertama kali diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah menggunakan lensa obyektif 10X, disebut lapang pandang lemah (LPL) atau low power field (LPF) untuk mengidentifikasi benda-benda besar seperti kristal dan beberapa jenis silinder. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan kekuatan tinggi menggunakan lensa obyektif 40X, disebut lapang pandang kuat (LPK) atau high power field (HPF) untuk mengidentifikasi sel (eritrosit, lekosit, epitel), jenis bakteri dan Trichomonas, sel sperma dan ragi. Bila pada saat identifikasi silinder atau kristal tidak terlihat jelas, pengamatan dengan menggunakan lapang pandang kuat juga dapat dilakukan untuk hasil yang lebih akurat.

Berbagai jenis sel yang biasanya digambarkan sebagai jumlah tiap jenis ditemukan per rata-rata lapang pandang kuat. Jumlah silinder yang ditemukan dilaporkan sebagai jumlah tiap jenis yang ditemukan per lapang pandang lemah. (Baca Juga Cara membaca hasil tes urin)

Cara melaporkan hasil pemeriksaan sediment urin adalah sebagai berikut :

DilaporkanNormal ++++++++++
Eritrosit/LPK0-34-88-30lebih dari 30penuh
Leukosit/LPK0-4 5-20  20-50  lebih dari 50 penuh
 Silinder/Kristal/LPL 0-11-55-1010-30 lebih dari 30 

Keterangan :
Khusus untuk pemeriksaan kristal Ca-oxallate : (+) masih dapat dinyatakan normal; (++) dan (+++) sudah dinyatakan abnormal.

Pemeriksaan Bilirubin

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bilirubin

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bilirubin

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bilirubin. Bilirubin adalah hasil dari penguraian hemoglobin dan merupakan produk antara dalam proses hemolisis. Bilirubin dimetabolisme oleh hati dan diekresi ke dalam empedu sedangkan sejumlah kecil bilirubin ditemukan dalam serum. Peningkatan bilirubin terjadi jika terdapat pemecahan sel darah merah berlebihan atau jika hati tidak dapat mengekresikan bilirubin yang dihasilkan.

Bilirubin didalam darah ini terdapat dalam 2 bentuk, yaitu :

  1. Bilirubin tidak langsung atau bilirubin tidak terkonjugasi (terikat dengan protein)
  2. Bilirubin langsung atau terkonjugasi yang terdapat dalam serum
Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi lebih sering terjadi akibat peningkatan pemecahan eritrosit, sedangkan peningkatan bilirubin tidak terkonjugasi lebih cenderung akibat disfungsi atau adanya gangguan pada fungsi hati.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bilirubin Beserta Nilai Normal

Adapun nilai normal pemeriksaan bilirubin adalah :
  • Bilirubin Direct : < 0.40 mg/dL    atau   SI = < 7 μmmol/L
  • Bilirubin Langsung : < 1.4 mg/dL atau   SI =  < 24 μmmol/L

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Bilirubin dan Implikasi Klinik

Beberapa indikasi klinik dari hasil pemeriksaan bilirubin antara lain :
  • Peningkatan bilirubin yang disertaipenyakit hati dapat terjadi pada gangguan hepatoseluler, penyakit sel parenkim, obstruksi saluran empedu atau hemolisis sel darah merah
  • Peningkatan kadar bilirubin tidak terkonjugasi dapat terjadi pada anemia hemolitik, trauma disertai dengan pembesaran hematoma dan infark pulmonal
  • Bilirubi terkonjugasi tidak akan meningkat sampai dengan penurunan fungsi hati hingga 50%
  • Peningkatan kadar pada pemeriksaan bilirubin terkonjugasi dapat terjadi pada kanker pankreas dan kolelitiasis
  • Peningkatan kadar keduanya dapat terjadi pada metastase hepatik, hepatitis, sirosis dan kolestasis akibat obat-obatan.
  • Pemecahan bilirubin dapat menyamarkan peningkatan bilirubin
  • Obat-obat yang dapat meningkatkan bilirubin antara lain seperti : obat yang bersifat hepatotoksik dan efek kolestatik, anti malaria (primakuin, sulfa, streptomisin, rifampisin, teofilin, asam askorbat, epinefrin, dekstran, metildopa)
  • Obat-obat yang meningkatkan serum bilirubin dan ALP antara lain : Allopurinol, Karbamazepin, kaptrofil, klorpropamid, eritromisin, estrogen, TMP-SMZ)

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Urine

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Urine

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Urine

Urin Rutin
Urinalisis metode Dipstick

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Urine

Urinalisis atau pemeriksaan urin dapat digunakan untuk evaluasi gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan hematologi, infeksi saluran kemih serta diabetes mellitus.

Pemeriksaan Urin Rutin dapat meliputi :

1.  Berat Jenis Spesifik ( Specific Gravity)

Urinalisis dapat dilakukan sewaktu atau pada pagi hari. Pemeriksaan jenis urin dapat digunakan untuk mengevaluasi penyakit ginjal pasien. Berat jenis normal adalah 1,001 - 1,030 dan menunjukkan kemampuan pemekatan yang baik, hal ini dipengaruhi oleh status hidrasi pasien dan konsentrasi urin. Berat jenis meningkat pada diabetes (glukouria), proteinuria > 2g/24 jam, radio kontras, manitol, dekstran dan diuretik.

Nilai berat jenis menurun dengan meningkatnya umur (seiring dengan menurunnya kemampuan ginjal memekatkan urin) dan preginjal azotemia.

2. Warna Urin

Warna Urin dipengaruhi oleh konsentrasi, adanya obat, senyawa eksogen dan endogen serta pH.
  • Warna Merah coklat ; menunjukan urin mengandung hemoglobin, myoglobin, pugmen empedu, darah dan pewarna. Dapat juga karena pemakaian klorpromazin, haloperidol, rifampisin, fenition, ibuprofen. Warna merah coklat dapat berarti urin bersifat asam (karena metronidazol) atau alkali (karena laksatif, metildopa).
  • Warna Kuning merah (pink) menunjukkan adanya sayuran, bit, fenazopiridin atau katartik fenolftalein, ibuprofen, fenitoin dan klorokuin.
  • Warna biru kehijauan menunjukkan pasien mengkonsumsi bit, adanya bakteri Pseudomonas, pigmen empedu dan amitriptilin.
  • Warna hitam menunjukkan adanya alkaptouria
  • Warna gelap menunjukkan adanya porfiria, malignant melanoma (sangat jarang ditemukan)
  • Urin yang berbusa mengandung protein atau asam empedu
  • Kuning kecoklatan menunjukkan primakuin, sulfametoksazol, bilirubin, urobilin
3.  pH Urin

pH urin dipengaruhi oleh diet dan vegetarian dimana asupan asam sangat rendah sehingga membuat urin menjadi alkali. pH urin mempengaruhi terbentuknya Kristal. Misalnya pada pH urin asam dan peningkatan berat jenis akan mempermudah terbentuknya kristal asam urat.

pH alkalin disebabkan :

  • Adanya organisme pengurai yang memproduksi protease seperti proteus, Klebsiella atau E.coli
  • Ginjal tubular asidosis akibat terapi amfoterisin
  • Penyakit ginjal kronik
  • Intoksikasi salisilat
pH Asam disebabkan karena :

  • Emfisema pulmonal
  • diare, dehidrasi
  • Kelaparan (starvation)
  • Asidosis diabetik
4.  Protein

Jumlah protein dapat dilacak pada pasien yang berdiri dalam periode waktu yang panjang. Protein urin dihitung dari urin yang dikumpulkan selama 24 jam. Proteinuria (dengan metode dipstick) : +1 = 100 mg/dL, +2 = 300 mg/dL, +4 = 1000 mg/dL. Dikatakan proteinuria bila lebih dari 300 mg/hari.  Hasil positif palsu dapat terjadi pada pemakaian obat seperti berikut :
  • Penicilin dosis tinggi
  • Klorpromazin
  • Tolbutamid
  • Golongan sulfa
Obat-obat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu bagi pasien dengan urin alkali. Protein dalam urin dapat : 
  • Normal, menunjukkan peningkatan permeabilitas glomerular atau gangguan tubular ginjal
  • Abnormal, disebabkan multiple mieloma dan protein Bence-Jones.
5.  Glukosa

Korelasi antara urin glukosa dengan glukosa serum berguna dalam memonitoring dan penyesuaian terapi antidiabetik.

Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD)

Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD)

AGD Analisa GAs DArah
Pengambilan Darah Arteri

Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD)

Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD) dilakukan untuk evaluasi pertukaran oksigen dan karbon dioksida dan untuk mengetahui status asam basa. Pemeriksaan dan Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD) ini dapat dilakukan pada pembuluh darah arteri untuk melihat keadaan pH, paCO2, paO2, dan SaO2.

Indikasi Umum :

  1. Abnormalitas Pertukaran Gas
    • Penyakit paru akut dan kronis
    • Gagal nafas akut
    • Penyakit Jantung
    • Pemeriksaan Keadaan Pulmoner (rest dan exercise)
  2. Gangguan Asam Basa
    • Asidosis metabolik
    • Alkalosis metabolik 

Interpretasi Hasil Analisa Gas Darah (AGD)

    A.  Interpretasi Hasil Pemeriksaan pH

    Serum pH menggambarkan keseimbangan asam basa dalam tubuh. Sumber ion hidrogen dalam tubuh meliputi asam volatil dan campuran asam (seperti asam laktat dan asam keto).

    Nilai normal pH serum :
    • Nilai normal     : 7.35 - 7.45
    • Nilai kritis       :  < 7.25 - 7.55
    Implikasi Klinik

    1. Umumnya nilai pH akan menurun dalam keadaan asidemia (peningkatan pembentukan asam)
    2. Umumnya nilai pH meningkat dalam keadaan alkalemia (kehilangan asam)
    3. Bila melakukan evaluasi nilai pH, sebaiknya PaCO2 dan HCO3 diketahui juga untuk memperkirakan komponen pernafasan atau metabolik yang mempengaruhi status asam basa

    B.  Interpretasi Hasil Tekanan Parsial Karbon Dioksida (PaCO2 )

    PaCO2 menggambarkan tekanan yang dihasilkan oleh CO2 kyang terlarut dalam plasma. Dapat digunakan untuk menetukan efektifitas ventilasi dan keadaan asam basa dalam darah.

    Nilai Normal   : 35 - 45 mmHg         SI     : 4.7 - 6.0 kPa

    Implikasi Klinik :
    1. Penurunan nilai PaCO2 dapat terjadi pada hipoksia, anxiety/ nervousness dan emboli paru. Nilai kurang dari 20 mmHg perlu mendapatkan perhatiaan khusus.
    2. Peningkatan nilai PaCO2 dapat terjadi pada gangguan paru atau penurunan fungsi pusat pernafasan. Nilai PaCO2  > 60 mmHg perlu mendapat perhatian khusus.
    3. Umumnya peningkatan PaCO2 dapat terjadi pada hipoventilasi sedangkan penurunan nilai menunjukkan hiperventilasi.
    4. Biasanya penurunan 1 mEq HCO3 akan menurunkan tekanan PaCO2 sebesar 1.3 mmHg.

    C.  Interpretasi Hasil Tekanan Parsial Oksigen (PaO2 )

    PaO2 adalah ukuran tekanan parsial yang dihasilkan oleh sejumlah oksigen yang terlarut dalam plasma. Nilai ini menunjukkan kemampuan paru-paru dalam menyediakan oksigen bagi darah.

    Nilai Normal (suhu kamar, tergantung umur) ; 75 - 100 mmHg      SI   : 10 - 13.3 kPa

    Implikasi Klinik
    1. Penurunan nilai PaO2 dapat terjadi pada penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), penyakit obstruksi paru, anemia, hipoventilasi akibat gangguan fisik atau neoromuskular dan gangguan fungsi jantung. Nilai PaO2 kurang dari 40 mmHg perlu mendapatkan perhatian khusus.
    2. Peningkatan nilai PaO2 dapat terjadi pada peningkatan penghantaran O2 oleh alat bantu (contoh; nasal prongs, alat ventilasi mekanik) hiperventilasi dan polisitemia (peningkatan sel darah merahdan daya angkut oksigen)

    D.  Interpretasi Hasil Saturasi Oksigen (SaO2)

    Jumlah oksigen yang diangkut oleh hemoglobin, ditulis sebagai persentasi total oksigen yang terikat pada hemoglobin.

    Nilai Normal   : 95 - 99 % O2

    Implikasi Klinik
    1. Saturasi oksigen digunakan untuk mengevaluasi kadar oksigenasi hemoglobin dan kecakupan oksigen pada jaringan
    2. tekanan parsial oksigen yang terlarut di plasma menggambarkan jumlah oksigen yang terikat pada hemoglobin sebagai ion bikarbonat 
    E.  Interpretasi Hasil Pemeriksaan Karbon Dioksida (CO2)

    Dalam plasma normal, 95% dari total CO2 terdapat sebagai ion bikarbonat, 5% sebagai larutan gas CO2 terlarut dan asam karbonat. Kandungan CO2 plasma terutama adalah bikarbonat, suatu larutan yang bersifat basa dan diatur oleh ginjal. Gas CO2 yang larut ini terutama bersifat asam dan diatur oleh paru-paru. Oleh karena itu nilai CO2 plasma menunjukkan konsentrasi bikarbonat.

    Nilai Normal Karbon Dioksida (CO2)    : 22 - 32 mEq/L      SI    : 22 - 32 mmol/L

    Kandungan CO2 plasma terutama adalah bikarbonat, suatu larutan yang bersifat basa dan diatur oleh ginjal. Gas CO2 yang larut ini terutama yang bersifat asam dan diatur oleh paru-paru. oleh karena itu nilai CO2 plasma menunjukkan konsentrasi bikarbonat.

    Implikasi Klinik :

    1. Peningkatan kadar CO2 dapat terjadi pada muntah yang parah, emfisema, dan aldosteronisme
    2. Penurunan kadar CO2 dapat terjadi pada gagal ginjal akut, diabetik asidosis dan hiperventilasi
    3. Peningkatan dan penurunan dapat terjadi pada penggunaan nitrofurantoin

    F.Anion Gap (AG)

    Anion gap digunakan untuk mendiagnosis asidosis metabolik. Perhitungan menggunakan elektrolit yang tersedia dapat membantu perhitungan kation dan anion yang tidak terukur. Kation dan anion yang tidak terukur termasuk Ca+ dan Mg2+. Anion yang tidak terukur meliputi protein, posfat sulfat dan asam organik. Anion gap dapat dihitung menggunakan dua pendekatan yang berbeda.

    Na+  -  (Cl-    +    HCO3)   atau Na   +   K  -  (Cl + HCO3) = AG

    Nilai Normal Pemeriksaan Anion Gap : 13 - 17 mEq/L


    Implikasi Klinik

    1. Nilai anion gap yang tinggi (dengan pH tinggi) menunjukkan penciutan volume ekstraseluler atau pada pemberian penisilin dosis besar.
    2. Anion gap yang tinggi dengan pH rendah merupakan manifestasi dari keadaan yang sering dinyatakan dengan singkatan "MULEPAK" yaitu akibat asupan metanoll, uremia, asidosis laktat, etilen glikol, paraldehid, intoksikasi aspirin dan ketoasidosis.
    3. Anion gap rendah dapat terjadi pada hipoalbuminemia, dilution, hipernatremia, hiperkalsemia yang terlihat atau toksisitas litium.
    4. Anion gap yang normal dapat terjadi pada metabolik asidosis akibat diare, asidoses tubular ginjal atau hiperkalsemia.